Kamis, 24 Maret 2016

Leaving the year of 20th-ist




Meninggalkan usia dua puluhan dan mulai beranjak ke usia tiga puluh. Apa yang sudah saya dapat di usia ini? Pertanyaan itu yang mungkin akan ada di setiap pikiran orang saat sudah mencapai fase ini. Ga mudah untuk menjawabnya, namun apa saja yang sudah dilalui tentunya harus disyukuri dan di lihat dari sisi baiknya, positif thinking akan menjadikan jalan kita lebih positif seterusnya. Walau belum banyak yang bisa dicapai, tapi impian dan mimpi harus tetap ada.


Family is everything

Mungkin terdengar cliché tapi itu yang saya rasakan saat ini. Keluarga adalah orang terdekat kita, yang mengerti bagaimana sikap saya terhadap lingkungan, terhadap teman, terhadap masa depan yang saya hadapi. Orang tua dan adik saya adalah segalanya untuk saat ini. Tempat dimana saya pulang dengan segala kondisi saya setelah beraktifitas. Alhamdulillah saya diberikan sebuah keluarga yang hingga saat ini mengerti kondisi saya terutama mamah yang selalu mendukung, tempat curhat hingga tempat mendapatkan nasihat hidup. Ayah yang selalu sayang saya setiap detik dalam hidup ini. Senantiasa melindungi dan memberikan kenyamanan yang bisa diberikan oleh nya. Adik yang bisa dikategorikan jarang curhat sih, tapi sekalinya ngobrol-ngobrol pendapat dan pemikirannya memang bisa membantu masalah yang saya hadapi. I am glad to have you.


Pekerjaan

Dunia kerja saya saat ini bisa dibilang ditengah ranjau berduri. Disini saya banyak belajar hidup di dunia kerja. Saat saya jatuh, saat saya tenggelam hingga saat saya merasa tak ada teman dalam dunia ini. Saya semakin memahami bahwa inilah dunia kerja sesungguhnya. It is really true that experience is the best teacher in life. Mulai dari merasakan comfort zone lalu dibubarkan menjadi annoying zone dan selanjutnya menjadi cold war zone, yah memang ga sulit, ditusuk dari belakang, dibicarakan semua orang, tentu saja bicara hal yang kurang baik mengenai saya. Saat itu saya semakin sadar bahwa inilah yang bisa saya lakukan, menjadi diri saya sendiri, dengan segala sifat saya dan semua ajaran orang tua untuk menjadi orang yang lebih baik dimasa berikutnya. Kemudian saya semakin bersyukur saya diberikan kesempatan merasakan dan belajar mengambil sikap lebih baik untuk segala macam kondisi di kantor. Learning by doing, saya mendapatkan kepercayaan diri saya dengan lebih baik, mempelajari apa yang terjadi, mengambil makna dari setiap kejadian dan tentu saja menjadi pribadi yang lebih berkembang kearah yang lebih positif. Semua terbaca seperti cliché ya? Ahaha.. Karena tentu saja saya tidak bisa menceritakan secara detail apa yang terjadi disini. Atau mungkin saya perlu mengambil jalur yang berbeda yah? Misalnya beralih ke kerja tanpa kantor? Who knows?


Teman

Saya rasa semua teman ada fase tersendiri. Belajar dari apa yang terjadi pada saya hingga saat ini. Dahulu bagi saya pertemanan adalah selamanya, sahabat is forever, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Setiap pertemanan ada fase tersendiri, teman sekolah akan selalu ada saat kita kuliah. Teman kuliah menjadi tempat berkisah tentang pekerjaan. Teman kerja belum tentu akan menjadi teman yang sesungguhnya. Ada fase dimana setiap pertemanan perlu break sejenak, fase itu akan terasa saat kita udah jarang ngobrol dan chat di media apa saja. Saya pernah merasa kangen dengan teman, tentu saja itu pasti dirasakan, tapi saat fase itu terjadi saya hanya bisa berusaha menjadi teman yang siap dihubungi, hingga di satu sisi ketika kembali bertemu akan ada cerita – cerita seru tentang kehidupan kita masing-masing.
Hingga pada akhirnya, ketika bertemu akan terasa ganjal ataupun terasa asing, karena mereka sekarang hanya bagian dari hidup kita dan kita masing-masing sudah ada kehidupan lain yang lebih di prioritaskan. Inilah fase yang dinamakan fase teman yang sudah menikah. Saya merasa kehilangan mereka, terkadang saya tertegun sendiri, saya kangen ngobrol dengannya, ataupun saya kangen ingin have fun which is karaoke-ing, watching movies, have lunch together and so on. Tetapi semua saya tepis, hei ini sudah bukan fase itu lagi, they have something more priority than you are, be understand-able. Saat itulah saya mulai berpikir, saya mungkin belum merasakan apa yang sudah mereka alami lebih dahulu, saya mencoba mengerti mereka.
Di fase berikutnya saya menemukan teman baru, yang bisa menerima saya dengan kondisi saya saat ini, saya merasa lebih baik. Saya menerima fase ini dengan tetap menyadari, yang terpenting adalah keluarga, teman adalah pemanis hidup, tidak saya lupakan, namun pada suatu saat nanti akan ada fase dimana saya bisa bercerita seperti dulu dengan mereka, berkumpul lagi dengan mereka dan memiliki quality time  dengan wujud yang berbeda bersama mereka. Mungkin saya hanya perlu menunggu sambil tetap menikmati apa yang sudah ada dan terus bersyukur.


Be better in me

Saya menyadari saat ini lebih baik menjadikan diri lebih positif, mencari lagi segala potensi dalam diri, terus berusaha mengembangkan diri dan tentu saja tetap syukur, tawakal dan berserah pada pemilik segalanya. Dengan segala pelajaran yang sudah saya terima beberapa tahun terakhir ini, saya bisa banyak belajar untuk lebih ikhlas dalam berteman, lebih sabar dan tekun dalam pekerjaan, going with the flow, mungkin itulah yang saya ambil dalam pekerjaan. Saya juga belajar banyak untuk menerima segala kondisi yang terjadi disekitar saya, mencoba bersikap dan berbicara lebih baik lagi ke sekitar saya, walau mungkin keadaan sekitar masih kurang bersahabat bahkan terkadang membuat saya kesal. Kembali lagi semua ke awal, harus lebih positif bersabar dan mengerti keadaan sekitar.


Semoga perubahan baik dalam diri saya ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Mempelajari hal baru dan mengembangkan segala potensi yang saya senangi. Amiinn inshallah kedepan menjadi lebih baik.
See you soon readers J

 music soundtrack for tonight : Let It Go (Frozen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar